SETELAH KEMBALI KE INDONESIA (BAGIAN SATU)

Bertemu teman kuliah, sebagai salah satu delegasi ASEAN meeting, Chiang Mai, 2013

ANU Network, bertemu salah satu teman kuliah semasa di ANU, Canberra, Australia, di salah satu ASEAN meeting, Chiang Mai, Thailand 2013.  

Hai, tulisan kali ini tentang masa setelah kembali ke tanah air, setelah menempuh kuliah S2 melalui program beasiswa Australian Development Scholarships-ADS (note: sekarang Australia Awards) di the Australian National University (ANU), Canberra, apa saja manfaat yang saya dapat, utamanya seiring dengan perjalanan karir saya.

Sebelum berangkat ke Canberra, saya bekerja di bidang penanggulangan bencana dengan UNDP Indonesia. Segera setelah menyelesaikan kuliah S2 dan kembali ke Indonesia, saya tidak perlu menunggu lama untuk beraktifitas sesuai dengan latar belakang keilmuan saya. Jadi ceritanya, saat saya presentasi thesis di ANU, yang dihadiri oleh beberapa dosen dari beberapa school, salah satu dosen di ANU meminta saya untuk membantu proyek penelitian terkait ketahanan pangan bagi masyarakat terdampak bencana letusan gunung Merapi tahun 2010. Jadilah, begitu kembali ke tanah air saya sudah melakukan serangkaian aktifitas riset, skalian kerja dan menambah ilmu baru.

Nah, jadi bisa dibilang, manfaat pertama, kemudahan akses informasi untuk peluang kegiatan, forum atau kesempatan berkarir, sehingga saya tidak perlu menunggu lama untuk beraktifitas sesuai dengan latar belakang keilmuan saya.

Luasnya Jaringan Kerja dan Pertemanan

Manfaat yang paling saya rasakan sebagai penerima beasiswa ADS adalah semakin luasnya jaringan kerja…dan pertemanan yaJ

Yang ini terkait tentang karir saya dulu ya, jadi setelah kembali ke tanah air dan menyelesaikan proyek penelitian tentang ketahanan pangan daerah terdampak bencana yang saya sebutkan tadi, saya bekerja di ASEAN Secretariat untuk sektor penanganan bencana dan kemanusiaan. Untuk posisi tertentu, pelamar pekerjaan di organisasi ini berarti berkompetisi dengan pelamar lain dari sepuluh negara ASEAN (masing-masing department di ASEAN Secretariat, harus memenuhi ketentuan adanya keterwakilan pegawai dari sepuluh negara anggota ASEAN). Dan ini membuat proses recruitment lumayan menantang. Saat seleksi tahap akhir, saya ingat kandidat lain adalah seorang yang cukup berpengalaman dari sebuah CSO regional ternama. Sampai saat ini saya sih yakin, salah satu pertimbangan saya terpilih diantara pelamar yang lain waktu, karena saya alumni ADSJ

Nah, kemudian tentang networking tadi, bertemu teman kuliah dan menjadi counterpart kita dalam bekerja, itu pengalaman yang luar biasa. Awal tahun 2013, dalam suatu pertemuan skala menteri yang membawahi bidang kebencanaan di Chiang Mai, Thailand, saat informal breakfast meeting, tiba-tiba seorang delegasi dari Viet Nam memanggil saya dari seberang meja, “Neni, are you Neni? …. Guess where we met?”. Itu adalah meeting skala mentri yang saya hadiri pertama kali, sebagai staff ASEAN Secretariat. Saya telah dibriefing bahwa kebanyakan delegasi yang hadir di adalah key people to the meeting (jadi bisa dibayangkan ya, ada yang memanggil nama saya dari seberang meja, ditengah brekfast meeting resmi….itu membuat atasan saya dan hampir semua delegasi memperhatikan adegan apakah yang terjadi).

Saat delegasi dari Viet Nam tersebut menghampiri dan menjabat tangan saya dengan erat, kita berdua langsung tertawa riang….ada reuni ANU tak terduga di tengah-tengah serangkain ASEAN meetingJ….Kita adalah teman sekelas selama satu semester untuk mata kuliah Social Impact Assessment semasa di ANU!

Pertemuan tadi terjadi setahun setelah saya kembali di tanah air, enam bulan setelah bergabung di ASEAN Secretariat. Dan menjadi istimewa karena di awal tahun 2013, terjadi serah terima Chairmanship dari Thailand ke Viet Nam. Dengan Viet Nam mendapat giliran menjadi Chair (Ketua) ASEAN Committee on Disaster Management, yang artinya semua meeting utama ASEAN terkait kebencanaan dikoordinasikan dan dibawah arahan Viet Nam. Yang artinya lagi, adalah saya dan teman saya selama setahun berada dalam satu lingkar koordinasi skala regional untuk semua event penting disaster management kala itu.

Saat itu, hanya ada dua personil di divisi Disaster Management-ASEAN Secretariat (saya dan atasan saya), divisi termuda di ASEAN Secretariat. Dan menangani issue policy on disaster management untuk sepuluh negara plus seluruh negara (organisasi) mitra ASEAN, itu sungguh luar biasa… menantang dan menarik! Mempunyai teman kuliah menjadi focal point counterpart kerja, itu pastinya sangat membantu suksesnya pencapaian pekerjaan dan juga membuat pekerjaan lebih membahagiakanJ

Oiya, siapa tahu ada yang tertarik untuk mengenal lebih banyak tentang ASEAN dan ASEAN Secretariat, semua informasi yang saya sampaikan di artikel ini bisa diakses untuk umum di web ASEAN ya, termasuk pencapaian apa saja selama keketuaan Viet Nam di sektor disaster management, link saya sertakan sbb: http://asean.org/asean-socio-cultural/asean-ministerial-meeting-on-disaster-management-ammdm/

Cerita Manfaat selanjutnya, bersambung di Bagian Dua yaJ

Advertisements

About Neni Marlina

Graduated from Master of Natural Hazards and Disasters, Research School of Earth Science, the Australian National University, Canberra, works as a humanitarian in disaster management.
This entry was posted in Australia, INDONESIA ku, The Australian National University, Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s