SAMBIL BELAJAR, BISA MENGAJAR (PARUH WAKTU)

Ya betul, saat memasuki semester dua semasa kuliah di Australian National University (ANU) di Canberra, saya mulai mengajar. Menjadi asisten guru bahasa Indonesia, di Rosary Primary School di suburb Watson, North Canberra.

Mengapa mengajar

Kok bukan mencari kerja paruh waktu yang lain, dan memilih menjadi guru bantu. Bagi saya, mengajar selalu menyenangkan. Mengajar membuat saya selalu mempunyai hal ‘baru’: murid baru, berarti individu baru dan membawa motivasi baru. Motivasi baru itu selalu menyegarkan^^

Mengapa saya memilih mengajar diakhir semester dua, bukan dari sejak semester satu, karena saya perlu memastikan apakah saya baik baik saja dengan kuliah saya (termasuk jadwal lab, fieldtrip, kerja kelompok dan menulis thesis).

Semester dua berarti saya sudah cukup mengenal, memahami pace dan ‘selera’ dosen pembimbing. Saya kuliah coursework, dan kemudian ditawari dosen untuk menulis thesis saja sekalian. Karena saya ‘mauan’J, juga biar ada kenang-kenangan tulisan setelah lulus nanti,  jadilah saya mahasiswa yang punya jadwal kuliah di dua school, dengan jadwal sit-in full sampai akhir semester, jadwal lab dan praktikum plus sudah harus mulai menulis thesis diawal semester dua….dan masih bisa jadi guru bantu dengan ceriaJ

Bagaimana proses melamar jadi guru bantu di Canberra

Informasi tentang adanya kebutuhan asisten guru saya dapatkan dari email group PPIA Canberra. Untuk seleksi dan pendaftaran, aplikasi lengkap beserta CV saya email ke pihak KBRI Indonesia. Selanjutnya pihak KBRI Indonesia akan memberi update apakah aplikasi kita diterima atau tidak.

Pihak KBRI juga akan menentukan penempatan masing masing guru bantu, sepertinya sudah dengan mempertimbangkan lokasi tempat tinggal guru bantu. Untuk menuju sekolah tempat saya mengajar, saya cukup berjalan kaki santai selama 25 menit, sambil berriang-riang menikmati kebun rumah-rumah warga Watson yang selalu menarik….. dan asri apalagi saat musim semi, sangat instagramableJ.

Bagaimana sih suasana kelas belajar-mengajar bahasa itu

Ruangan kelas Bahasa Indonesia disekolah tempat saya mengajar, ditata sedemikian rupa dengan ornamen bernuansa Indonesia, bahkan dari sejak pintu kelas. Pintu masuk kelas bagian atas dihiasi dengan bendera Indonesia dan Australia berukuran kecil, bayangkan bendera merah putih kecil yang dilem diseutas benang dan dipasang melintas gang saat Agustusan di Indonesia, yaaa…seperti itulah hiasan bagian atas pintu kelas bahasa Indonesia.

Lalu begitu masuk, seluruh sisi ruangan terpasang rak kayu susun dua, disanalah terpasang semua pernak pernik nuansa Indonesia, diantaranya: wayang golek Sunda, wayang kulit, patung Loro Blonyoh ukuran mini, rumah tongkonan Toraja, kain tapis Lampung, tas kulit kayu dengan manik Kalimantan, tempat permen bermotif batik Mega Mendung Cirebon, buku bacaan dalam bahasa Indonesia,  dan ….disana, didinding berseberangan dengan pintu masuk, tepat ditengah-tengah dinding, terpasang sang Garuda Pancasila!

Luas ruangan kelas sekitar 15x20m2 dan mampu memuat 40 siswa elementary (SD) dan 25 siswa secondary (SMP). Jadi ruangan tersebut akan kosong kalau tidak ada kelas bahasa Indonesia.

Formasi tempat duduk beragam, sesuai kegiatan belajar mengajar. Siswa kadang duduk dilantai (karpet digelar, jika siswa melantai), ini berlaku untuk kegiatan berlatih tari (misalnya). Atau siswa duduk per group kecil terdiri dari 6 anak mengeliling satu meja, ini formasi untuk kegiatan menggambar atau diskusi dongeng Kancil. Atau tiba tiba ada 5 meja besar yang disusun acak dimasing masing sisi ruangan, untuk 5 group siswa yang terdiri dari 4-6 orang, saat kita belajar memasak dan skalian demo cara memasak kolak ubiJ

Jadi, apa saja yang terjadi saat kegiatan mengajar   

Saya mengajar maksimal 5 jam seminggu untuk kelas-kelas yang berbeda, beberapa kelas SD and SMP.  Hal menarik pertama adalah kegiatan mengajar untuk kelas SD bisa penuh ‘kejutan’. Setelah dua minggu mengajar kelas SD, saya tau apa yang harus saya siapkan bagi murid kanak kanak saya: senyum handal, berlatih muka ‘datar’ sambil nebak-nebak pertanyaan asyik apa yang akan dilontarkan anak-anak hari iniJ

Sering ditengah-tengah kegiatan mengajar, lagi memperagakan tari dinding badinding tiba-tiba ada yang bertanya:  “Neni, ada apa di kepala kamu, kenapa selalu ditutup scraft, ehmm… is that scraft?”;  lagi menilai buku mewarnai dan ada yang bertanya “Can I visit you, I want you to teach me how to wear your head cover?”.

Beberapa pertanyaan yang masih saya ingat sampai sekarang antara lain  “how do you call your mom, is it MomJ?” (ini ditanyakan saat tiba-tiba ada anak yang pingin lihat photo keluarga ala Indonesia, jadilah saya buka FB dan memperlihatkan beberapa foto dari album FB). Selanjutnya, “so, how do you feel? are you OK and not feeling sick for not drinking and eating? and is it that long to wait for your eating time?” – saat Ramadhan, dan mereka belajar tentang ibadah puasa (*beberapa siswa, utamanya siswa secondary/SMP sudah paham bahwa Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam).

Bagi siswa elementary, materi ajar dapat berupa permainan dan mengajarkan lagu-lagu Indonesia; mengajar lagu dan gerakan ‘Kepala Pundak Lutut Kaki’, Tari Indang (Dindin Badindin), mewarnai dan menggambar dengan thematic bahasa Indonesia, belajar ‘suit’ ala gajah, semut dan orang (suit ala Australia: kertas, batu dan gunting).

Selain mengajar bahasa Indonesia secara sederhana, penyusunan kata, pengenalan kata benda dan kata kerja, percakapan perkenalan, percakapan di meja makan, family tree dan membaca dongeng (bagi kelas elementary) dan buku bahasa Indonesia (bagi siswa secondary), kita juga mengajarkan membaca jam, percakapan sederhana jual-beli, tentang nilai mata uang … dan memasak kolak atau bihun bersama di bulan RamadhanJ

Apakah guru bantu dibayar?

Dengan kegiatan ajar yang beragam, ditambah kegiatan tukar budaya antar bangsa, mengajar sebagai guru bantu bahasa Indonesia pastinya selalu memerlukan persiapan dan selalu menarik. Dan yang menarik untuk ditunggu adalah saat gajian, ya…ada uang lelah bagi guru bantuJ

Uang lelah guru bantu biasanya dibayarkan setiap tiga bulan sekali, setelah formulir kehadiran mengajar disetujui dan ditanda tangani oleh guru utama dan guru bantu. Formulir tersebut kita email ke KBRI, kemudian KBRI akan memberitahukan kapan guru bantu dapat mengambil uang lelah di KBRI.

Menarik bukan, jadi silahkan dicoba ya, Sambil belajar Mari mengajar^^

bertemu salah satu murid, saat akhir pekan di National Galery

Eh….ga sengaja bertemu salah satu siswa di National Gallery of Australia saat akhir pekan.  Siswa ini sedang mengikuti kegiatan Pramuka, sementara saya sedang jalan jalan menikmati koleksi seni yang bertebaran di Canberra^^

Advertisements

About Neni Marlina

Graduated from Master of Natural Hazards and Disasters, Research School of Earth Science, the Australian National University, Canberra, works as a humanitarian in disaster management.
This entry was posted in Australia, BERCERITA, INDONESIA ku, The Australian National University, Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s