Trubusing Pucuk Ketapang

ketapangWaktu saya bawa sebatang tunas Ketapang ini dari Semarang, dia kering layu karena tercerabut dari tanah, tergeletak di ruangan hotel ber AC selama dua hari dan menempuh enam jam perjalanan kereta hanya berbekal segenggam tanah basah dari halaman stasiun Tawangsari.

Walaupun saya punya beberapa tunas ketapang segar yang lain, saya tetap membawanya ke Jakarta, dengan satu harapan baik: dia akan tumbuh bersemi lagi.

Setiap pagi saat berangkat beraktifitas, saya selalu menyapa batang ketapang kering tadi dengan senyum dan ucapan ‘terimakasih, semangat!….semoga hari ini menyenangkan ya buat kita”

Pagi ini, setelah hampir tiga bulan mengering, pucuk kering ketapang tampak segar dengan daun-daun barunya menyapa, dia siap menjalani takdirnya: pohon peneduh penyejuk hari.

Sering perjalanan kehidupan ini, mengeringkan jiwa, memangkas nilai-nilai berbudi yang ditanamkan orang tua kita, melunturkan harapan baik dari petuah para guru dan buku yang kita baca. Namun yakinlah, saat kita memutuskan untuk tetap ‘tumbuh’, sangat sering pula kehidupan akan memberi kita dengan kebaikannya yang menyejukkan.

Terimakasih Pucuk Ketapang

Advertisements

About Neni Marlina

Graduated from Master of Natural Hazards and Disasters, Research School of Earth Science, the Australian National University, Canberra, works as a humanitarian in disaster management.
This entry was posted in BERCERITA, Live her life lively .... and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s