Kenapa saya ikut ‘Kethoprak’ Kampus? (1)

Pentas 'Tunjungsari' Teater ADA, Yogyakarta

Alkisah ketertarikan saya di kegiatan panggung sebenarnya berawal dari kecil. Alin, umur tiga tahun, harus ‘nderek’ mbah Utinya ke Kalimanah Wetan, Purbalingga, Jawa Tengah.

Disanalah saya dimanjakan dengan kesenian tradisional Jawa, eyang Uyut saya memiliki seperangkat angklung Sunda yang masing-masing angklung itu tingginya…. dua kali tinggi badan saya waktu itu. Kemudian, rumah eyang saya sebagai ex-wedana, memiliki pendopo tempat semua warga sering berkumpul waktu itu. Dua pendopo malah, satu; pendopo ‘bukan-serius’ untuk warga desa setempat, satu lagi untuk tamu tamu yang tergolong ‘serius’. Kedua pendopo ini, dikelilingi pot pot bunga.

Nah, di pendopo yang ‘bukan serius’ itulah tempat saya suka menari tarian karangan saya sendiri, dengan memakai selendang batikan mbah Uti saya, dan hiasan rambut ala ‘ngambil-bunga-di-pot-pendopo’. Tentu saja, lengkap dengan adegan kethoprak dimana saya sibuk ngomong sendiri memainkan berbagai peran.

Oiya, kostum khas saya waktu ‘manggung’ adalah
1. baju kebaya pink punya ibu yang saya temukan di lemari, kemudian saya penitiin sesuai ukuran tubuh saya, 2. setagen kecil (yang sebenarnya berasal dari setagen dewasa yang khusus dipotong oleh mbah Uti saya, dengan ukuran dua lilitan tubuh saya,
3. Kain panjang (Batik) yang dengan tidak rela dipilihkan mbah Uti dari koleksi kainnya yang ter’lusuh’. (note:setelah saya besar, baru saya tahu alasan ketidak relaan mbah Uti saya….kain batik mbah Uti ternyata kebanyakan batik tulis……bahkan karya ‘cantingan’ mbah Uti saya sendiri.)
4. Sapu tangan kecil berbagai ukuran yang saya selipkan disekelilingi stagen pinggang saya.
5. Rambut dengan pita warna warni (kadang dari berbagai kain perca yang saya ambil dari sisa orderan jahitan mbah ‘mbak Anna’….mbah saya yang lain)
6. Bunga yang saya sisipkan di daun telinga
7. And the show shall begin………

Pernah dalam suatu kesempatan dengan keberanian anak usia 3 tahun, Alin kecil meminta pendapat mbah Dhe (mbah Gedhe, kakaknya mbah Kakung saya) tentang penampilan kethoprakan saya.
Begini kira kira dialognya:
Alin: ‘mbah, apik mboten?’ sambil muter muterin badan hingga sapu tangan2 disekeliling pinggang saya berkibar …..
Mbah Dhe: ‘apane sing apik?’ sambil berkerut melihat saya dari atas ke bawah tanpa empati terhadap kharisma artis kethoprak
Alin: ‘niki, klambine mbok apik nggih?’ ngarep mode on
Mbah Dhe: ‘Oooooh, ya apik si apik…ning deneng kaya bocah gemblung ya’

(Note: dialog diatas diucapkan dengan aksen ‘ngapak’ khas kulonan (aksen khas Tegal, Brebes, dll))

Percayalah, bahkan komen less encouraging dari mbah Dhe saya tadi, tidak menyurutkan semangat performing saya. Tahu nggak, apa yang terlintas dipikiran saya waktu itu……”ah. ini mbah Dhe mana tahu bagus ngga baju kethoprak ku…….orang yang diurus cuma gabah ma duit aja. Bagus kok …Bagus” (sambil liat liat di kaca dan ga habis pikir kenapa dibilang kayak bocah gemblung:);))

Sesuai daftar costume manggung saya diatas, menurut Anda, menarik dunk kostum kethoprak saya?:)

Advertisements

About Neni Marlina

Graduated from Master of Natural Hazards and Disasters, Research School of Earth Science, the Australian National University, Canberra, works as a humanitarian in disaster management.
This entry was posted in Live her life lively .... and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s