Indonesia…menjadi opponent juga tetap ‘menang’ kan?!

Dalam semua kompetisi, kita semua paham bahwa garis akhirnya: menang dan kalah, nah untuk Pesta Demokrasi kali ini (kalau boleh disebut sebagai Kompetisi juga), sebenarnya garis akhir itu bisa sangat berbeda, yaitu: MENANG dan MENANG.

kenapa bisa? karena mengingat, masing masing kandidat katanya berkiblat pada janji janji politiknya, yang intinya katanya untuk RAKYAT ADIL MAKMUR, NEGARA AMAN SENTOSA

MENANG yang pertama;
yah selayaknya menjadi pemenang pemilu yang kita tahu, dilantik menjadi President dan Wakil President yang syah, yang wajahnya akan terpajang di hampir semua instansi-instansi pemerintah, menjadi inspektur upacara tiap agustusan di istana negara serta acara acara simbolis lainnya, ” wajib mengatur dan memperbaiki” republik tercinta ini selama 5 tahun kedepan (kalau Tuhan mengijinkan), dan jangan lupa…. siap didemo habis habisan dalam proses ‘pendewasaan’ republik ini.

MENANG yang kedua;
tidak menjadi presiden/wapres yang dilantik sih, tapi menjadi opponent bagi siapapun yang dilantik…….namun tetap dapat me MENANGkan RAKYAT.

INDONESIA kita ini negara dengan teritori yang besar, lebih dari 14.000 pulau (fakta yang selalu membuat semua rekan rekan bule bilang “Really?” ) ….kalau memang berniat “untuk Rakyat” bahkan sebagai opponent pun, mestinya Indonesia yang besar secara teritori dan besar secara “masalah” ini dibaca sebagai kesempatan memenangkan “untuk Rakyat” tadi.

Setiap pemerintahan yang berjalan di suatu negara, perlu opponent dengan jiwa PEMENANG, yang sehat , efektif dan cerdas agar terwujud semaksimal mungkin pelayanan Rakyat. Bahkan jika PEMILU kita menganut “a winner-take-all system” sekalipun, masih banyak kebutuhan rakyat yang belum dapat dilayani dengan baik oleh pemerintahan terpilih.

Begini, walaupun Opponent kan tetap dapat menjalankan program-program yang telah disosialisasikan saat kampanye itu (kan “untuk Rakyat” katanya). Sekali lagi, Indonesia yang ‘masih muda’ dengan teritori yang luas, yang kaya jumlah penduduk dan “berlimpah” masalah ini, memungkinkan tercecernya permasalahan sosial, budaya, ekonomi, integritas dll dalam kepemimpinan pemerintah siapapun. Memang terkadang memegang kebijakan pemerintahan memudahkan akses ‘melayani’ bangsa dan rakyat, tapi kalau memang “untuk Rakyat”….. bahkan tanpa embel embel RI 1 /2 pun, tetap bisa kan, tetap mampu menarik massa kan…..

Jadi walaupun pemenang Opponent, tetap dapat melanjutkan misi “untuk Rakyat” nya, misalnya dengan menjalankan program sbb:

1. Yayasan ‘Anti Sekolah Bocor’ seNusantara, yang secara berkala merenovasi fasilitas fisik sekolah, utamanya sekolah dasar, dengan murid murid berusia rentan secara fisik dan psikis untuk berkembang. Satu SD dengan kapasitas 120 siswa plus fasilitas arena bermain memerlukan 60juta, ini juga bisa berarti seuntai gelang kandidat/ Kelly Bag Hermes bagi sebagian orang, bukan?

2. ‘Jalan Mulus tanpa Hambatan’ Foundation, yang bertarget merintis segala jenis infrastruktur di daerah termarginalkan. Sehingga semua arus yang mendukung kehidupan rakyat, akhirnya dapat disalurkan secara rata, dan menyeluruh.
Apapun fasilitas yang dijanjikan ke Rakyat (listrik, BLT, sembako, pertanian, 50 juta bebas miskin, 70% lapangan kerja baru …dll data statistik yang diajukan saat kampanye), pasti terhambat kalau akses menuju ke rakyat lobang lobang, hampir runtuh, atau membahayakan atau bahkan tidak ada!!!

Marginal, bukan berarti di Papua…. di Banyumas tempat saya dibesarkan sejak usia 2 tahun…masih terdapat jembatan dengan konstruksi ‘bambu ajaib’, bambu 10 batang, diikat dengan serat bambu, dan disitulah melintas anak SD, kerbau, pak tani dan jeraminya, penjual kangkung dan keranjangnya yang berukuran selebar kerbau…..hampir setiap musim hujan saya mendengar orang/anak hanyut, belum terhitung kalau pas sungainya banjir…horor!
Jembatan tersebut hanya 200 meter dari balai desa, 300 meter dari jalan poros lintas kabupaten Banyumas Pemalang….jalan yang notabene sering dilewati para ‘orang penting’.

3. Asosiasi ‘Ramuan Erot Madura Asli Pertiwi’, yang khusus menangani khasanah budaya, warisan, komodo,ramuan, jimat, pakem, sejarah, dan lain lain yang berhubungan dengan kekayaan budaya ibu pertiwi ini.
Pasti kita semua ‘gemes’ dengan batik, reog, tofu, PULAU!!!…apa memang tidak ada instansi yang berani dan berniat “pasang dada” untuk itu semua.

Bayangkan kalau semua kasus impotensi (maaf) sedunia merujuk ke Indonesia karena ‘Erot Formula’; coba kalau semua wanita separo dunia saja (gender yang terkenal obsessed dengan physical attraction) merujuk ke ‘Madura Clinic’ untuk solusi awet langsing dan awet lain lainnya, devisa juga kan; lalu Komodo Island menjadi the Next7Wonders; plus Kakaban Kalimantan mendunia …itu kan juga membuka lapangan kerja, solusi ekonomi plus membanggakan rakyat Indonesia di mata dunia…………..
Kalau India dan China dapat tetap exist bahkan hampir menaklukkan dunia tanpa harus meninggalkan kain sari, Bolywood dance, gaun cheongsam dan cultural traits mereka lainnya, berarti kita juga pasti sangat mampu untuk melakukan hal yang sama kan, bahkan mungkin lebih…mengingat melimpahnya potensi negri ini yang belum tergali.
Gambaran sederhana, ingat kan dengan (almh) Bu Tien Suharto (bukan berarti saya pro era pemerintahan waktu itu lho), yang dulu kemana mana mengenakan kebaya, sangat berKARAKTER saat berdampingan dengan First Lady lain, bukan?

Dan masih banyak lagi, area area di luar kursi politik yang dapat di ‘presiden’ i oleh para Opponent di Republik yang kaya ini.

Menang sebagai Opponent, berarti juga memiliki ‘keuntungan’ :

– Dengan menjadi opponent yang maslahat, tentunya juga menjadi mesin kampanye untuk tujuan ‘politik’ selanjutnya, atau untuk generasi politik selanjutnya.
– Mengabdi untuk Rakyat secara opponent berarti juga lebih banyak mempunyai waktu ‘luang’ untuk berkreasi, karena terbebas dari tuntuntan paper work dan birokrasi serta……….tuntutan kontrak politik dengan pihak ini dan itu (yang mungkin pernah berjasa saat pemenangan pemilu).
– Tidak perlu terlalu cemas tentang di demo habis habisan, tidak harus wajib ‘membahagiakan satu negara’ kan, bagaimanapun kan Opponent 🙂
– Kalau Rakyat justru merasa bahwa Opponent lah, yang mampu ‘menyekolahkan’ rakyat, yang bisa ‘membawa kebanggaan’ berbangsa di mata dunia, yang ‘mengangkat derajat para penganggur menjadi pekerja’, yang betul-betul peduli rakyat kecil dan bukan hanya simbolik ‘makan’ makanan rakyat kecil saat kampanye, yang ‘melayani, membahagiakan’ rakyat dan mengantarkan menjadi RAKYAT ADIL MAKMUR NEGARA AMAN SENTOSA ….tanpa susah susah kampanye ini itu, pasti RAKYAT sukarela mengantar dan meMENANGkan Opponent menuju istana kan?

Advertisements

About Neni Marlina

Graduated from Master of Natural Hazards and Disasters, Research School of Earth Science, the Australian National University, Canberra, works as a humanitarian in disaster management.
This entry was posted in INDONESIA ku. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s